Minggu, 20 Januari 2013

Mengatasi batuk dan muntah pada anak

Bingung ya bu kalo anak batuknya susah sembuh? Saya punya pengalaman pusingnya mengobati anak saya yang kalau batuk pasti disertai muntahan makanan. Kasian liat si kecil muntah apalagi makanan yang dia muntahkan susah payah hasil segala bujuk rayu untuk bisa masuk di mulutnya. Karena anak saya ini gak nafsu makan.
Dengan 3 dokter saya mendiskusikan keluhan anak saya ini. Dalam kasus pertama kunjungan saya kedokter dalam kondisi anak demam, dokternya bilang mungkin karena anak tidak bisa mengeluarktaan dahak anak menjadi muntah. Jawaban dokter inilah yang jadi jawaban saya ketika "Abah"nya ngomel "anak batuk selalu muntah, apa ga kasian?? bawa kedokter". Panjang lebar ngomelnya saya tidak mau peduli. Kedokter sudah, antibiotikya saja belum habis saya kasih. Saya tidak mau selalu langsung mengunjungi dokter tatkala demam. Karena saya pernah bekerja di industri farmasi, sedikitnya saya tahu kapan harusnya obat-obatan dengan resep dan antibiotik harus diberikan. Ada ibu yang jika anaknya sakit langsung memberi obat dengan merk "P..." dengan kandungan zat aktif ibuprofen didalamnya dengan kisaran HET 20rb. Dulu tersebut tergolong obat keras tak bisa dijual bebas tanpa resep. Memang obatnya manjur tapi saya takut imun anak saya jadi terganggu. Pernah saya nonton  tayangan di tv tentang penjelasan kapan sebetulnya anak perlu dibawa kedokter. Dokternya menjelaskan adanya demam pada anak merupakan suatu reaksi tubuh anak terhadap adanya benda asing yang masuk ketubuhnya. Imun tubuh secara otomatis mempertahankan daya tahan tubuh dengan gejala demam. Jika kondisi dayatahan anak lemah maka dibantulah dengan obat-obatan dan antibiotik.
Tapi setelah antibiotik habis anak saya tetap masih mengalami batuk muntah.
Kedokter berikutnya saya hanya memeriksakan kondisi muntah pada saat batuknya saja pada dokter, "malah akhir-akhir ini dok tertawa atau nangis yang terlalu pun menyebabkan anak saya muntah, kalau disuruh makan susah banget". Dokter hanya bilang itu batuk biasa dan hanya diberi resep. Tadinya saya khawatir harus dilakukan pemeriksaan Lab. Nota resep senilai Rp.280.000 untuk penyakit batuk biasa dengan harga yang saya cek HETnya diluar biasa.
Nah kunjungan ketiga kalinya anak saya masih batuk muntah dan disertai diare. Diare sembuh tapi frekuensi BABnya jadi lebih sering, sampai 3xsehari. Batuk muntah masih juga. Saya sudah stress.. berbagai obat dan antibiotik yang beraneka ragam. Kasian anak saya minum obat terus. Cara alami seperti air jeruk nipis yang diencerkan dengan air dan madu, rebusan jahe yang saya beri gula merah, sudah rutin juga saya berikan. Tapi masih belum ada hasilnya. Nyari-nyari jawaban ada salah satu artikel yang membuat saya merenung setelah baca artikel ini. Tak pernah saya dapatkan sebelumnya informasi tentang gejala cacingan diawali dengan muntah dan batuk. Setahu saya hanya tidak nafsu makan atau lemas. Tidak nafsu makan mungkin ya, tapi kalau lemas? saya merasa anak saya gak ada lemasnya. Malah saya yang sering ngeluh lemas mengejar anak saya. 
Saya memutuskan untuk mencoba obat cacing. Tadinya ingin memberikan alternatif yang alami dulu yaitu air sari wortel santan dan garam. Tapi anak saya enggan meminumnya, kakak saya bilang gak enak pasti makanya dia gak mau. Tapi saya dan suami coba enak kok, gurih banget. Trus kakak bilang "ya udah kalian aja yang minum biar gak cacingan".
Nah sampai pada keputusan "udah a kita beli obat cacing aja, da usianya udah lebih 2tahun". Terkejut sekali dia memang tidak  batuk atau muntah lagi. BAB normal, dan yang paling bikin seneng makannya lahap banget sampai tetangga bilang anak saya sekarang hidungnya tambah gak kelihatan.

Amati harga obat

Ibu, ketika ibu membeli obat di apotek atau menerima obat yang diberikan oleh dokter apa yang ibu perhatikan? Mungkin kandungan, komposisi, kadaluarsa, efeksamping dansebagainya label informasi dalam kemasan obat yang memang sudah memiliki ketententuan baku harus memuat berbagai informasi tentang obat tersebut. Tapi bagi saya ibu rumah tangga informasi yang tak kalah pentingnya yaitu label HET... (Harga Eceran Tertinggi). Karena berdasarkan pengalaman bekerja sebelumya. Saya tahu kalau HET adalah patokan baku harga yang harus dipatuhi. Karena industri obat mejual obatnya hampir setengahnya dari harga HET yang tertera tetapi kenapa mungkin bukan saya saja yang mendapati harga obat lebih tinggi dari etiket HETnya. Tak banyak juga yang tahu tentang informasi tersebut. Sering saya komplain penjual obat, "kenapa harganya segitu? ini tertera di HETnya segini?" dan penjualnya bilang ini harga yang saya beli dari sananya mba. #%@????? saya bilang "maaf mas, mas yang bodoh atau mas memang mau membodohi saya? mas yang bodoh kalau mas beli obat ini dari produsennya dengan harga segini"

Ya perdebatan itu memang pernah terjadi. Saat itu saya mengunjungi klinik yang menyediakan dokter spesialis THT untuk memeriksakan benjolan ditelinga anak saya. Aneh saya rasa karena selama proses pemeriksaan anak saya, mas sekertarisnya ikut menyimak didalam ruang periksa. Begitu saya selesai konsultasi dengan dokter dan diberi kertas resep, dipintu keluar kertas resep saya diminta oleh petugas tersebut dan langsung dia berikan kepelayan apoteknya. Nama anak saya dipanggil dan saya menghampiri meja apotek. "biaya pemeriksaan 70rb bu" saya kasih uangnya. dia bilang lagi "obatnya 245rb bu", saya bayar lagi dan baru kemudian dia siapkan. setelah menunggu saya kembali dipanggil dan diberi 3 jenis obat beserta aturannya. Iseng saya intip kertas label dan menengok ketiga HETnya dengan yang kalau dijumlahkan cuma sekitar 150rban. terjadilah perdebatan diatas. Saya gak mau panjang lebar dengan Mas-masnya setelah kalimat terakhir diatas tadi saya langsung pergi. Saya bukan tak mampu bayar semua ibu pasti mengusahakan ingin yang terbaik untuk anaknya. Atau siapapun yang pergi berobat pasti mengidamkan kesembuhan. Tapi kenapa ada oknum-oknum seperti itu yang benar-benar memanfaatkan penderitaan dan rasa sakit orang lain. Kesal sekali rasanya. Mengingat kakek renta yang ditemani cucu laki-laki ABG yang terlihat tidak begitu memperhatikan kakeknya yang memilki gangguan pendengaran yang tadi menunggu obat juga, mengeluarkan tumpukan uang receh ribuan sambil bilang "bisa separuh dulu obatnya?". Marah rasanya mengetahui ternyata ini yang dia lakukan pada kakek tadi. Saya pergi sambil hati menghujat mereka dengan berbagai kata-kata yang tak diucapkan dengan jelas.

Benjolan pada anak telinga

Anak saya memiliki tanda lahir di anak telinga berupa lubang titik sebesar diameter jarum. Nenek saya bilang "kakaputeun " gara-gara ibunya waktu hamil suka jahit gak bilang amit-amit. @&#%$???? Saya tak mengelak waktu saya hamil memang hobi jahit-jahit gak jelas. Asal gunting asal jahit gak beraturan hasilnya. Saya tak begitu menganggap itu serius karena sebatas tanda lahir sampai suatu hari saya diusia anak saya 2tahun menemukan bagian tersebut bengkak seperti  bisul yang mengandung nanah. Panik anak saya mengeluh sakit jika bagian tersebut saya sentuh. Sebelumnya memang pernah saya bersihkan lubang tersebut karena terlihat kotor dan bau, tapi ini ketika saya pijit benjolan tersebut mengeluarkan nanah sekitar 2tetes. "Abah"nya ngomel dan langsung membawa anak saya ke klinik dokter spesialis THT.

Terkejut dengan pernyataan dokter saat itu "Ini harus di operasi. ada memang beberapa orang yang memiliki tanda lahir seperti ini namun pada umumnya tidak mengganggu. Ini sudah ada infeksi di dalamnya, karena anaknya masih kecil operasi tidak harus dilakukan segera, saya akan kasih resep dulu. Tapi biasanya kalau sudah infeksi akan terjadi lagi seperti ini sampai dia diangkat". Rasanya tak tega kalau harus membayangkan sikecil dioperasi walaupun itu operasi kecil.

Tiba dirumah berdiskusi dengan ibu mertua, beliau bilang "Jangan panik adik suami saya pernah mengalami benjolan dibagian leher yang divonis 2 dokter harus diangkat. Ada yang bilang suruh di "jampe" ka mak oi, alhamdulilah sembuh gak usah di operasi".%&@$#???? hati kecil ragu tapi saya tidak mau menyinggung perasaan ibu. Saya membiarkan anak saya mengikuti kemauan neneknya. Dalam hati saya bergumam "Ya Allah jauhkan saya dari musyrik ya Allah, kesembuhan hanya ada ditanganmu ya Allah sembuhkanlah anak saya tanpa operasi". Saya tidak ikut mengantar anak saya, sepulang disana Ibu bilang pasien yang mau di"jampe "banyak jadi ngantri yang lain sama punya benjolan.
...%@&$????
Pulang kerumah saya tanya tetangga tentang Mak tersebut. ternyata 1tahun terakhir Mak tak bisa jalan akibat kecelakaan. Tinggal sendirian ditemani cucunya yang masih sekolah dirumahnya. Hati mengiba.... "Ya Allah jauhkan aku dari musyrik dan riya, engkau maha menyembuhkan. hamba mendatangi Mak Oi bukan meminta kesembuhan Ya Allah, karena kesembuhan datang hanya dari-Mu".Sambil aku berfikir mungkin itu jalan Allah untuk Mak, Allah mengabulkan doa Mak untuk kesembuhan orang, dan orang berterimakasih dengan caranya, mudah-mudahan saling memberi barokah.

Tapi Subhanallah Alhamdulilah setelah 2x jumat mengunjungi Mak, anak saya sembuh. Benjolannya hilang tanpa mengeluarkan mata nanah seperti yang diperkirakan dokter. Hanya pelan-pelan mengempis dengan sendirinya. Alhamdulilah mudah-mudahan tidak terjadi lagi. Kesembuhan datang hanya dari Allah.


Alhamdulillah
Kesembuhan datang dari Allah lewat jalan apa saja. Tak selalu dengan terpaku dengan vonis medis. Alhamdulillah yakin saja tak ada yang tak mungkin.

Perbedaan Obat Generik dan Bermerk

Pernahkan anda di bingungkan dengan harga obat generik dan bermerk? atau pernahkah anda ragu dengan khasiat obat yang diberikan oleh dokter karena obat tersebut generik? apa sih sebenarnya obat generik itu? 


Begini ibu saya akan menjelaskan pengetahuan saya berdasarkan pengalaman jika ibu ingin lebih jelas atau ragu dengan penjelasan saya silakan tanyakan pada yang berwenang (dalam masalah obat generik ya bu yaitu dinas kesehatan atau BPOM, bukan aparat berwenang seperti polisi)
Saya pernah bekerja di salah satu perusahaan obat yang tidak begitu besar. Produksi obat-obatannya kebanyakan adalah generik. Namun tak semuanya generik beberapa memang memiliki merk sendiri. Obat generik sudah ditetapkan pemerintah harus memiliki berbagai parameter kandungan, pembuatan, harga, desain kemasan dsb. yang sudah baku harus dipenuhi oleh semua produsen obat generik. Sebagai QA tugas saya adalah memeriksa kadar zat-zat tertentu dalam obat terutama kadar zat aktif dalam obat tersebut dengan patokan kadar yang tidak boleh kurang atau lebih dari ketentuan yang ada. selain zat aktifnya kandungan mikrobiloginya pun mempunyai patokan yang harus dalam pengendalian. Jika semua pemeriksaan dengan hasil baik barulah obat tersebut bisa dijual.
Salah satu yang menjadi kebingungan saya ketika pertama kali bekerja adalah fakta ternyata obat generik dan bermerk tidak ada bedanya dalam segi kandungan atau proses pembuatan. Obat yang diproduksi disana seperti paracetamol memilki 2 variasi. yaitu paracetmol untuk kemasan generik dan yang satunya keluar dengan merk tertentu. Dalam segi kandungan yang saya periksa tidak memiliki perbedaan kadar zat aktif.
Lalu saya bertanya pada Apoteker saya waktu itu tentang perbedaan generik dan komersil. Panjang penjelasan apoteker pada saat itu ambil salah satu contoh saja dari pertanyaan harga. Untuk memiliki merk obat tidak mudah. Banyak sekali persiapan dan segala macam " tektekbengek " yang harus disiapkan. Dan itu semua membutuhkan waktu dan biaya yang panjang. Jadi intinya punya merk saja mahal belum lagi kalau produksi tersebut melibatkan berbagai promosi seperti iklan misalnya. Bayar iklan di tv apalagi dengan rating yang tinggi dengan frekuensi sedang bisa memakan biaya ratusan juta perbulan. Belum lagi harga model iklannya???  pasti harga model iklannya saja lebih tinggi dibandingkan gaji saya. Padahal yang menentukan obat tersebut layak beredar adalah para QA nya seperti salah satunya saya. Kebayang kalau saya salah periksa dengan laporan hasil analisa bagus ternyata pada kenyataanya tidak?? (curhat pribadi hehehe). Tapi ibu tidak usah khawatir hal-hal semacam itu tidak akan pernah terjadi. Saya tahu betul bahwa produksi obat generik dan bermerk yang dibuat diperusaahan obat (yang saya naungi saat itu) tidak ada perbedaan dalam segi pengawasan produksi atau mutu kandungannya. Mungkin juga tujuan produsen obat ingin memiliki obat bermerk karena ingin membuat obat dengan kandungan diluar ketetapan BPOM RI dan mendaftarkan merk tersebut dengan pengawasan yang tidak mudah. Jadilah harga merk tersebut mahal karena berbagai faktor. Dan maaf ibu, saya disini hanya berbicara sebatas seorang ibu, tidak mewakili lembaga apapun. Ibu yang hanya ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati saya seperti hal nya anda
intinya ibu, jika membeli obat atau menerima resep obat tidak ada salahnya kita tanyakan adakah generiknya? karena bukan tidak mungkin bahwa institusi tersebut sudah "kongkalikong" dengan produsen obat tertentu. Banyak produsen obat yang melakukan berbagi promosi obat salah satunya dengan kerjasama yang melibatkan penjual obat. dengan bonus-bonus menggiurkan yang lagi-lagi bisa lebih tinggi dari gaji saya (hikshiks curhat lagi). 
Jadi ibu, jangan khawatir atau ragu untuk mengkonsumsi obat generik ya. karena tak ada perbedaan kandungan zat aktifnya ataupun membahayakan.